Thursday, August 22, 2013

THE MIRACLE OF TAUHID [RHQ CHAPTER3-1]

Selepas dzuhur di jantung kota Jazeerah Al Arabia, matahari bersinar mesra merebakan cahaya emas dipantulkan hamparan pasir menguning. Sahara Makkah yang kini perlahan menyempit ditumbuhi semarak hotel dan apartement-apartemen tinggi berselang taman-taman hijau seperti memukau setiap pandang derap pejalan kaki menuju Al Masjid Al Haram Makkah Al Mukaramah.
Lembah Makah semakin megah, ratusan raksasa tinggi perlahan merangkak mendekat mengepung Masjidil Haram. Pohon-pohon kurma diam, seperti gelisah berharap awan tebal segera melintas. Siang itu matahari Makah terik dan satu sosok berjalan sedikit tergesa-gesa, sesekali membetulkan niqab yang menutup wajahnya. Yah, kota ini adalah impian semua jiwa yang merindukannya. Namun sungguh ia begitu berbeda ketika berbicara dunia kerja. Benar, rasanya, tidak ada tempat kerja senyaman di Negeri sendiri.

Aisyah, sebut saja begitu. Baru saja keluar dari sebuah mall sehabis belanja untuk menu masak hari ini. Wajahnya sendu menahan rasa pusing yang tiba-tiba menyengatnya, “Akh terik matahari di kota ini sudah biasa bagiku”. Kata Aisyah yang nyata telah bekerja tahun-tahun di kota ini. Rasa letih, lelah dan cape, baik mental, fikiran dan tubuh adalah hal biasa bagi seorang berstatus TKW. Meski bukan status yang menjadi nafas dalam bahasan ini, namun dari sinilah semua cerita dimulai. Allah telah benar-benar mengangkat derajat seorang wanita biasa yang berahlak mulia, sebentar lagi kisah ini akan menjadi besar dan semerbak dijiwa-jiwa yang merindukan kedekatan dalam dekapan cahaya tauhid!

Tubuh aisyah mulai tidak stabil, kakinya terguncang. Sakit itu sepertinya bukan sengatan matahari gurun yang garang, tapi berasal dari dalam tubuhnya sendiri. Ia merasakan tubuhnya mulai menggigil, aliran darah diseluruh tubuhnya seperti mendidih, rasa pusing memenuhi kepalanya. Ia tergesa memasuki sebuah gang kecil menuju sebuah rumah, berharap segera mengetuk pintu dan melepaskan barang-barang yang ia bawa.

Namun tiba-tiba langit menjadi gelap, dan.. bugh... Aisyah terkulai lemah tidak jauh dari rumah besar tempat ia bekerja. Dan, selang beberapa menit kemudian seorang arab menghampirinya. Ia memanggil penghuni rumah untuk membantunya membawa Aisyah kedalam, seorang wanita arab gemuk membuka niqab (tutup wajah hitam) yang menutupi wajahnya. Ia menjerit histeris melihat darah keluar dari hidung, mulut, kedua mata dan telinga Aisyah.

Hari itu juga Aisyah dibawa kerumah sakit, dan dokter memvonisnya kangker darah. Penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya, rumah itu menjadi gaduh keheranan. Namun ada yang lebih mengherankan lagi disana. Diantara hilir mudik rumah sore hari itu, terlihat jelas satu ekpresi menyembunyikan seyum bahagia dibalik serautnya. Hatinya menyimpan gemuruh berkecamuk, lalu seperti panglima membusungkan dada diatas kemenangan besarnya. Ia berbisik; "Akhirnya, kamu kena Aisyah!"

Dua hari kemudian, di rumah sakit. Aisyah mulai sadar dan keheranan, melihat peralatan medis yang menempel di kulitnya, ia memegangi kepalanya yang masih berat dan pusing. Keheranannya berubah menjadi pilu, Abuya dan Ummi menenangkannya sehabis memberitahukan vonis 2 tahun untuk sisa usianya.

Khabar pedih itu ia pegang erat-erat. “Khabar ini jangan sampai tiba dikeluargaku di Indonesia, adikku adalah amanah dari ayah yang harus aku tunaikan” bisiknya dibalik kecamuk antara takut dan bingung yang menyelimuti. Aisyah harus tetap disana, bekerja hingga ujung bimbang yang tidak ia ketahui lagi.

Berita lain segera menyeret jiwanya kedalam lembah putus asa. Lembah yang lebih menyeramkan dari sekedar kematian, titik ketahuidannya belum sampai untuk menundukan kekhawatiran di jiwanya. Dua minggu dari saat itu vonis berubah, usia Aisyah divonis hanya dua atau tiga bulan lagi. Hati manakah yang tidak gentar melihat peluru kematian melesat menuju ubun-ubunnya?
Suami, anak, keluarga.. dan nestapa yang ia tinggalkan dinegerinya segera tergambar jelas!
ALLAHUAKBAR!

Demi Allah, cerita nyata ini adalah sebuah kehormatan dan amanah dari Allah untuk saya sampaikan kehadapan sahabat yang berbahagia semua. Kisah nyata paling nyata tentang dzahirnya Asma Al Mukmin Al Mukhaimin, tentang dzhahirnya Allah yang Maha Memberi Keamanan dan Mengamankan Hamba-Nya yang yakin akan pertolongan-Nya. Alkisah modern yang ingin mengabarkan kepada dunia bahwa keajaiban itu masih ada, kisah yang memperlihatkan dengan nyata kecamuk antara balatentara cahaya tauhid yang mengalahkan kekuatan jahat dari konspirasi iblis, syaitan dan bosnya tukang sihir.

“Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Rasul di tiap umat untuk menyerukan ‘sembahlah Allah saja!’
Cerita ini sengaja saya tulis untuk mengabadikan kembali sebuah kisah menginpirasi taubattan nasuha seorang hamba. Kisah tentang lembutnya kasih sayang Arrahmaan Arrahiim, kisah nyata yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana Malaikat Rahmat turun dari langit kebumi dan menyentuh langsung hamba-Nya yang teraniayaya, kisah yang membuat hari-hari disela kesibukan saya gelisah sebelum menuntaskan dan menyuguhkannya kehadapan anda saat ini. Kisah tentang cahaya santun Al Islam yang nyata, kisah tentang dzahirnya kekuasaan Allah yang meluluhlantakan konspirasi iblis dan balatentaranya hanya dengan satu Malaikat-Nya. Kisah yang saya dedikasikan teruntuk sahabat yang tidak ingin dikenal namanya, yang kemudian saya ganti dengan nama Aisyah Nursyifa (AN).

Segala puji bagi Allah Dzul Dzalaali wal Ikraam!

Selain tokoh Aisyah ada tokoh lain yang tidak kalah mengagumkan. Demi Allah ini bukan kisah murahan di sinetron-sinetron menunggu buka di sore bulan Ramadhan, namun sekali lagi ini nyata. Kisah yang semoga kelak menginpirasi sutradara Muslim hingga kisah ini diangkat ke layar lebar dan disaksikan jutaan ummat dari masa ke masa. Nama asli pemeran antagonis dalam kisah ini sengaja saya sembunyikan pula, untuk mengamankan namanya dan ikut serta memuliakan niatan taubahnya dalam Dien yang megah ini. Beliau seorang wanita berusia 45 tahun. Sungguh ia dilimpahi hidayah Allah Yang Maha Pemurah. Sebuah kisah lain tentang kasih sayang Allah yang dzahir kepada orang yang ingin dan sungguh-sungguh mau kembali dalam dekapan taubatannasuha. Tentu saja lengkap dengan bumbu-bumbu seru, berupa rintangan dan tantangan antara hidup dan mati. Tokoh ini kemudian saya beri nama Nesha Sulistiya (NS).

Selain dua tokoh mengagumkan di atas, kisah nyata ini juga memperlihatkan kepada kita “betapa” kejahatan jin kafir dan juga cara menaklukannya dengan Ayat-Ayat Al Qur'an yang kemudian disebut metode Ruqyah Jarak Jauh atau “Distance Quranic Healing” yang dilakukan via gelombang suara di telpon yang melipat jarak Indonesia - Saudi Arabia. Kisah mencengangkan yang juga melibatkan 20 Mutawa (Ustad) Al Masjid Al Haram Makah dan pertolongan Allah dengan Malaikat-Nya yang turun dari langit sebagai duta Tuhan dalam mendzahirkan Kemualiaan Al Dzalaali wal Ikraam.

Kisah ini menjadi istimewa dengan kesaksian sekaligus keterlibatan para peruqiyah Masjidil Haram yang dipinpin Syaikh Mahmud Abdul Ghofur al Khohtoni (semoga Allah merahmati beliau) dan banyak keajaiban yang turun dari Allah Subhannahu wa Ta’ala di malam 4 Jully 2012 yang bertepatan dengan Nisfu Sya'ban di Al Haram Makkah dan turunnya Malaikat Rahamah 16 July 2012 di sebuah Kamar di Makkah Al Muakaramah serta banyak keajaiban lain hingga wafatnya NS, wafatnya 1 dari 5 tokoh lain yang menjadi mualaf dari agama budha yang selama ini dia peluk, penyakit gila yang menyerang balik anak laki-lakinya Nesha serta kewafatan putri tercinta beliau. Semoga tokoh-tokoh yang telah meninggalkan kita di dunia ini diterima disisi Allah SWT dan membuat kita lebih serius lagi menyikapi malapetaka sihir yang mungkin menyerang hamba Allah yang lalai ini.

Demi Allah, kisah ini adalah teladan untuk semua hamba Allah dalam semua tingkatan iman. Insya Allah menjadi pengokoh ketauhidan dan membuat kita berfikir ulang tentang kokohnya janji Iblis untuk menjerumuskan seluruh manusia kedalam neraka Jahim. Insya Allah, mengetengahkan kisah rahasia tersembunyi pemusnahan jin-jin pembangkang dengan Ayat-Ayat dan Asma Allah.
Baiklah, sebelumnya saya ingin berpesan kepada semua pembaca, lebih tepatnya sebuah peringatan untuk siapa saja yang saat ini menyadari bahwa dirinya tengah dalam cengkraman/gangguan jin atau sihir silahkan untuk menghentikan membaca sejenak dan memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca ta’awudz atau do’a perlindungan lain dan lanjutkan baca hingga selesai.

Setelah itu saya memohon maaf jika ada ketidaknyamanan dalam penyampaian bahasa, demi menjaga keaslian cerita dan ciri khas masing-masing tokoh, awalnya saya menyalin, lebih tepatnya melakukan copy-paste dari inbox/pesan di facebook saya ke tulisan ini. Namun karena kisah nyata yang terjadi tahun lalu ini saya suguhkan dibuku, ada sebagian yang dihilangkan dan tentunya ada bebeapa perubahan tata bahasa, penyuguhan dan kaidah penulisan untuk kenyamanan penikmat tulisan agar tulisan ini layak disebut tulisan. Adapun tulisan asli ada di website saya ataupun teman-teman yang ikut serta menyebarkan ulang di blog-blog bebas.

SALAM TAUHID!

Cerita bermula dari ibox atau pesan di facebook dari seorang perempuan yang tidak saya kenal sama sekali pada tanggal 18 Juni 2012 lalu. "Assalamualaikum.", katanya di ruang pesan. "Maaf boleh nanya, apa benar ini ustad pengarang buku Rehab Hati? Saya temen kerjanya Aisyah" katanya saat itu.

"Wa alaikumsalam warohmatullah.. benar saudariku, silahkan". Jawab saya seperti biasa setelah beberapa jam kemudian, 2 bulan terakhir saya memang disibukan dengan rutinitas baru dalam distribusi buku perdana saya yang terbit 10 Juni 2012 kemarin.

June 18, 2012: Nesha Sulistiya
NS: “Alhamdulilah, ustad.. Apa seseorang yang telah melakukan dosa besar, maaf, seperti misalnya telah mendzolimi temennya secara halus apa Tuhan masih memaafkannya?”

NAI: “Minta maaf dahulu sama yang bersangkutan, lalu taubat. Jika dimintai ganti rugi oleh seseorang tersebut, maka penuhilah”.

NS: “Tidak mungkin jika saya harus jujur ustad, karena apa yang saya lakukan itu sangat sadis. Dulu saya melakukanya karena sakit hati pada dia, Aisyah tidak mau membantu meminjamkan uangnya untuk operasi anak saya saat ia sakit. Hingga akhirnya anakku meninggal. Dia berdalih, uang gajinya udah di kirim ke adiknya di Bandung. Saya tidak percaya, dan disitulah nafsu meliputi, saya ingin membalas dendam.

Hampir selama satu tahun ini, saya memasukan ramuan racun sedikit demi sedikit pada teh atau jus yang dia minum tanpa dia ketahui. Bahkan bulan kemarin, ketika mendengar ia pingsan dan kena penyakit yang mematikan aku tersenyum bahagia. Hatiku berkata, “Manjur juga ramuan itu”.

Tapi dibalik semua itu, ada rasa sedih ketika aku melihatnya terus-menerus sholat malam dan berdo'a hampir tidak tidur sepanjang malam. Aku aneh, dia koq tak patah semangat bahkan tambah semangat. Pernah aku nasehatin; "Udah kamu pulang aja, dan berobat di rumah". Dan jawaban Aisyah singkat, katanya; "Aku tak takut mati mba, asalkan aku dalam keadaan khusnul hotimah, aku tak mau pulang karena masih punya amanat". Jujur aku sendiri benar-benar gak tau apa isi amanat itu.

"Ini taqdir saya mba, dan aku percaya do'a bisa merubah taqdir". Katanya lagi membuat hatiku tergetar hebat, dengan kata sederhana itu aku yang selama dua tahun ini gak pernah pegang Al Qu'ran dan sholat pun jarang-jarang... koq merasa tersentuh? Mungkin akulah yang disebut musuh dalam selimut, ustad..?”

Saya terkejut sejadinya, karena beberapa hari kemarin saya mendengar khabar bahwa Aisyah yang saya kenal itu memang sakit. Kabarnya bahkan koma beberapa hari. Lebih terkejut lagi tentang kedatangan wanita ini, yang dengan tiba-tiba membeberkan rahasia besar yang akan membahayakan jiwanya.

NAI: “Minta maaf saja, karena Allah tidak akan pernah memaafkan dosa seorang hamba sebelum urusannya dengan yang bersangkutan diselesaikan. Jika dia tidak memaafkan setelah meminta maaf, maka Allah yang akan memaafkannya insya Allah. Meminta maaf itu sebuah konsekuensi, ingat ALLAH masih menyayangimu dengan cara ini. Allah masih menyayangimu dengan melembutkan hatimu saat ini, maka berterimakasihlah sebelum hati itu keras kembali. Mulailah jujur dan minta maaf, itu saja. Tidak ada cara lain”.

NS: “Wah.. gak kebayang betapa marahnya dia bila aku jujur? Aku takut dia membenciku, apa tak ada cara lain selain minta maaf langsung sama dia. Misalnya, mungkinkah jika saya bilang ke salah satu keluarganya biar merayunya tuk memaafkan aku? Ini nyawa taruhanya ustad”.

NAI: “Antum (anda) ini, apalah arti nilai dari manusia? Dibenci manusia itu biasa, nanti juga ia lupa sendiri dengan urusannya, tapi dibenci sama Allah yang Maha Mengurusi segala sesuatu? Dan korban antum ini sebenarnya siapa? Aisyah Nursyifa itu itu bukan? Insya Allah ana bantu untuk meminta maaf”.

NS: “Iya dia Aisyah. Kok bisa tau, emang ustad kenal sama dia? Iyah, aku kenal nama ustad dari Aisyah. Biasanya kalo kami lagi kumpul dia suka membacakan status facebook atau tulisan ustad. Kadang ia memperdengarkan rekaman suara ustad, beberapa teman memang ada yang kagum dan langsung pesan bukunya, tapi biasanya aku cuek aja”.

NAI: “Saya hanya kenal dia di facebook juga kok. Antum tidak bisa bilang cuek lagi saat ini bukan?”. Jawab saya, sedikit menguji. Meski sedikit gerah dengan panggilan ustad itu.

NS: “Jangan bilang begitu ustad, iya aku tertarik beli buku karangan ustad. Mudah-mudahan dengan membaca buku itu saya yang malas ibadah ini jadi semangat. Apalagi umur saya udah kepala 4, bila ustad memang bisa bantu tolong bantu saya, karena bila sudah berhadapan dengan dia saya gak sanggup memandang wajahnya yang mulai pucat. Dan ini, 100 % kesalahan saya. Saya disiksa lahir bathin ustad”.

NAI: “Tau ga agar siksaan bathin itu sembuh? Ingatlah siksaan yang antum  alami ini baru tahap dunia saja. Di akhirat nanti bisa berjuta-juta kali lipat! Jika di dunia mungkin hanya beberapa tahun saja, di akhirat kelak bisa berjuta-juta tahun? Dan hari ini adalah kesempatan, sebelum masa usiamu habis, segera minta maaf. Biar saya bantu untuk memulainya.

NS: “Ya Alloh ustad bener-bener mengerikan bila mendengar kata akhirat. Saya dihantui rasa takut gugup dan gemetar tak mampu untuk mengatakan apa-apa. Aku harus segera minta maaf, dan tolong ustad segera mulai yah. Agar dia tidak terkejut setelah ana jujur semua. IngsaAlloh hari ini bila dia bangun nanti, mohon bantuan serta doanya supaya dia gak emosi dan memaafkan aku”.

NAI: “Baik, ana mulai sekarang ya. Dan antum siap siap tunggu intruksi”.

NS: “Terimakasih ustad yah, saya setia menunggu”.

NAI: “Semoga pertolongan Allah turun. Berdo'alah”.

NS: “Aamiin. Ustad, Subhanalloh.. baru ku rasakan sentuhan bathin seperti ini. Jujur aku sering tidak solat subuh, yang lainnya juga belang-betong. Barusan Aisyah ke kamarku pamitan minta do'a mau ke dokter untuk kontrol. Ketika ia mencium tanganku dan keningku aku malah gak kuat mengatakan apa-apa. Berat bibir ini tuk mengatakan maaf, saking dosanya saya ini ustad?”

Kata Nesha membuat mata saya berkaca-kaca, ingin rasanya segera menghakimi dan mencemoohnya. Namun tentu saja, ini akan mengacaukannya atau bahkan mengubah niatnya.

NAI: “Sekarang fikirkan jika Allah mencabut nyawamu duluan, sebelum sempat minta maaf. Fikirkan ya, semoga antum mau minta maaf. Secepatnya”.

NS: “Iya ustad saya akan segera minta maap kepadanya. Tapi dari mana saya memulai perkataannya?”
NAI: Sebentar..

“Saat hati itu melembut, geletar jiwa itu kemudian perlahan menenang. Jika hati itu tetap keras, maka dunia ini memang keras. And, no other way” [RehabHati]

Saya menarik nafas, dan menggeser mouse ditangan kanan. Mengetik nama yang tidak asing lagi dibenakku, ia adalah salah satu warga atau anggota di komunitas Kampung NAI, sebuah forum silaturahim “sahabat NAI”. Sosok penuh kesabaran dan bersikeras belajar tentang pengokohan tauhid diantara keterbatasan waktunya. SubhanAllah! wanita yang terdzalimi, apa yang harus kukatakan padanya?

Akhirnya, saya mulai mengirim pesan dengan penuh pengharapan semoga Allah melembutkan hatinya dan mau memaafkan, berharap menjadi penyebab turunnya keridho’an Allah untuk kesembuhannya.

NAI: “Teteh, seandainya..Teteh meninggalkan dunia ini dengan khusnul khatimah, dan itu harus dibayar oleh sesuatu. Kira-kira mau atau tidak membayar hal itu meski sangat mahal?”

AN: “Tentu saja mau bila saya sanggup dan mampu untuk membayarnya. Pertanyaan kang NAI ini aneh?”

NAI: “Bagaimana menurutmu jika tidak harus bayar apapun, hanya memaafkan dengan sempurna? Maukah?”

AN: “Tentu mau. Tiada kesalahan seberat apa pun, yang orang lakukan padaku dan aku insya Allah memaafkannya. Yang aku takutkan adalah orang lain yang tak memaafkan kesalahanku”.

“Allahuakbar”. Tak sengaja bibir saya bertakbir, dengan kalimat ke dua darinya yang indah. Lalu saya balas pesan itu.

NAI: “Jika sakit antum ini karena guna-guna seseorang. Dan ia tidak bisa menyembuhkanmu. Lalu dia minta maaf... Apa antum menerimanya?”

“Ana berharap dan berdo’a, jika antum mampu memaafkannya; Semoga Allah memaafkan seluruh dosamu. Dan mengubah orang yang mengguna-gunaimu tadi menjadi orang baik dan sempurna imannya. Setelah itu ana berharap semoga keridhaan Allah turun karena kebaikanmu memaafkannya. Apapun hasilnya”.

AN: “Astaghfirullohal adzim... Kang NAI, penyakit ini murni pemberianya yang sangat istimewa. Aku tidak mau su’udzon pada orang akhi. Dan jika itu memang benar, tentu aku memaafkanya dengan sepenuh hati. Justru kagum pada kejujurannya. Dan seingatku, tak punya musuh. Masa ada orang kayak gitu?”.

“Aamiin ya robbal alamiin.. Andaikan ada semoga orang itu cepat sadar atas apa yang di perbuatnya”.
Allah kareem... Saya benar-benar keheranan dan bersyukur bisa diperkenankan untuk melihat hati semualia ini. Saya semakin bersemangat untuk mempengaruhinya dalam membuktikan perkataannya”.

NAI: “Insya Allah sebentar lagi beliau datang dengan takut dan air mata, beliau juga sudah memesan buku Rehab Hati karena ingin berubah. Tolong disambut ya, saudariku. Semoga menjadi penyempurna kebaikanmu”.

AN: “Aduh saya harus nyambut siapa?. Disini saya hidup sendirian kang, hanya ada Abuya dan Ummi juga anggota keluarganya, masa sih dari mereka ada yg menguna gunai saya. Terus, ada juga yang memesan buku itu mah temen atau pembantu saudara majikanku”.

NAI: “Anggap saja ini ujian terbesarmu, saudariku. Dan yakinlah engkau bisa melewatinya, Allah tidak akan memberikan ujian kecuali setelah Dia telah tahu bahwa kita mampu menyelesaikannya. Memaafkan itu perbuatan yang sangat mulia. Semoga para malaikat dilangit mengaminkan do’a kami untuk kesembuhanmu atau kebaikanmu diakhirat seiring dengan indah dan mulianya ahlaq yang engkau lakukan dihadapan nanti”.

AN: “Aamiin ya robbal alamiin. Hatur nuhun kana do'anya, insyaAlloh saya akan berusaha mellewati ujian ini. Walau masih masih bertanya-tanya dalam hati, ada apa yang terjadi kok sampai kang NAI membahas sejauh ini?”

“Salah satu pelarian terindah dan penuh berkah dari semua kelelahan dan keletihan adalah dengan memaafkan, memaafkan dengan sempurna. Tidak sulit jika kita mau merebah sedikit saja, merebah dan merendah, merunduk dan mengakui bahwa Allah-lah Dzat Yang Maha Tinggi”. [RehabHati]

Allahuakbar! Seakan tidak percaya, celah itu segera terlihat, jelas!
NAI: “Ukhti Nesha, Allah telah menolongmu, beliau berkata begini: "Penyakit saya murni pemberian-Nya yang sangat istimewa, saya tidak mau suudzon pada orang akhi. Dan jika itu memang benar,tentu aku memaapkanya dgn sepenuh hati justru kagum pada kejujuran nya.Yang saya ingat saya tak punya musuh..". Lalu saya bilang sebentar lagi ada seseorang datang kepadamu, dan sambutlah sebagai ladang pahalamu. Secepatnya datangi dia ya.

NS: “Ustad apa benar itu perkataannya? Ya Alloh anak bocah kemarin sore tapi iman nya mantep betul? Iya ustad saya akan datangi dia setelah pulang dari dokter. Benar benar detik-detik menegangkan ustad”.

NAI: “Benar, semoga rahmat ALLAH bersamamu”. Balas saya, dan 6 jam kemudian, ia baru membalas.

NS: Amiin, trimakasih ustad telah membantu menyirnakan kegelisahan yang dari dulu aku tahan. Jangan lupa bukunya pesen yah biar keimananku bisa membaik. Bila semuanya sudah berjalan sesuai rencana. Aku kabari ustad dan minta tolong kembali. Bolehkah?

NAI: Sudah minta maaf apa belum?

NS: Ustad setengah jam lalu aku datang menemuinya dan mengatakan semua dari pertama. Sambil kupegang tangannya, dia sangat shock dan tersenyum tapi menangis. Dia tak banyak ngomong ustad cuma berkata; “Yang sudah terjadi lupakanlah dan minta maaplah sama Alloh”. Tapi selepas itu dia langsung masuk kamar dan nangis, saya jadi bingung ustad?

June 19, 2012
NAI: “Alhamdulillah.. Bantu dia untuk sembuh, semaksimal mungkin ya”.
Hanya itu yang bisa saya tulis siang itu, sebenarnya air mata hampir saja menetas. Namun aktifitas saya mulai saling bertabrakan. Jujur hampir tidak bisa melayani konsultasi di email seperti ini, karena sebenarnya telah dibuka Konsultasi Rehab Hati yang telah dijadwalkan setiap malam.

Aktifitas baru saya – dengan team Rehab Hati untuk mendistribusikan 3000 buku yang diambil dari penerbit – sebagai lahan untuk berjihad itu semakin menyeret saya. Konsentrasi semakin tidak fokus dengan mepetnya rencana seminar Rehab Hati Nasional yang akan segera dilaksanakan saat itu.

Jujur kegiatan mengonsep sebuah seminar adalah hal yang benar-benar baru dan tidak bisa dilakukan semudah menulis kisah ini.
Seakan saya ingin berkata, “Tolong.. aku sibuk saudariku, jangan curhat di inbox, please.. tahukah jika, badai yang kuhadapi pun semakin dahyat, badai itu mulai menyerangku dari dalam tubuh team. Aku hampir saja runtuh, bantulah aku dengan tidak menggangguku”. Namun kutahan kata kata itu, melihat keindahan kisah yang kulihat dihadapan nanti.

NS: Caranya ustad gimana? Do'a ku mana mungkin di qobul Tuhan. Emang sih agak lega, tapi kalau Aisyah mengurung diri terus di kamar tak keluar membuat aku khawatir.

NAI: Biarkan aja dulu, dan perhatikan dia baik-baik selepas ia keluar. Tunjukan padanya bahwa antum berubah.

NS: Ustad dia seperti biasa aja menyapa dan mau di ajak ngobrol. Sikapnya seakan tak terjadi apa-apa. Malah aku yang merasa berdosa pas aku bilang sama dia; “Aku pesen Buku Rehab Hatinya yah?” dan katanya “Untuk mba, udah di beliin tinggaal nunggu pengiriman ke Saudi”.

NAI: Benar kan apa yang saya katakan? Rahmat Allah itu lebih luas dari jagat raya ini. Sekarang saatnya bersungguh-sungguh taubat dan memperbaiki diri. Berharaplah dengan pengharapan yang tinggi atas ampunan Allah, karena sungguh Allah itu Rabb yang Maha Pengampun.

NS: Ustad, jujur aku nol masalah agama. Apa rahmat dan hidayah bisa di dapat untukku? Selama ini, aku gak tau kenapa, gak pernah mau kalau di ajak Umroh. Dan sebenarnya Aisyah ini korban ke dua saya, tapi anehnya kok dia masih bernapas sampai sekarang. Padahal korban pertama saya di madura, dulu hanya beberpa bulan aja dagingnya sudah busuk. Tapi ini mah cuma kangker darah, padahal yang ku masukan ramuan yang sama?

NAI: Innalillah.. Cepatlah umrah, temui Baitullah.. Dan minta ampun sama Allah! Saat ini hidayah telah turun bersamamu, makanya hatimu lembut saudariku. Ketahuilah benteng Aisyah itu Allah yang Maha Gagah yang mampu melakukan apapun. Jangankan hanya satu manusia, 6 Milyard manusia di dunia ini bisa diangkat nyawanya dan bumi ini di musnahkan dalam sepersekian detik, itu namanya kiamat.. nanti.

NS: Tapi aku pergi gak tau harus baca apa? Ustad, dihatiku ada perasaan menyesal, dan sepertinya hatiku telah membatu. Aku sering melihat aisyah, meski dalam keadaan di rawat waktu solat tak pernah tertinggal. Aku pernah ngomong sama dia; "Udah sholat mah nanti aja kalau sembuh, dia bilang; "Mba tiada lagi kesempatan, detik ini, kesempatan ini harus digunakan. Mumpung masih hidup, kalau mati mah kita yang di sholatkan". Padahal dari mata dan hidungnya saat itu keluar darah, sejak itulah aku merasa iri padanya.

NAI: Umrah itu mudah koq, insya Allah disana hati luluh. Saya jamin! Beli saja buku panduan hanya 5 real koq.

NS: Saya pernah pergi kesana, tapi hanya berdiri di luar dan gak berani masuk. Aku dihantui ketakutan yang menderu-deru. Karena aku pernah dengar, di Masjidil Haram itu siksa akan hadir nyata.

June 20, 2012
NAI: Pergilah dan niatilah untuk taubat, saudariku. Jika seorang yang pergi untuk taubat ke suatu tempat, dan dia meninggal dalam perjanan sebelum ia taubat maka sesungguhnya ALLAH telah mengampuninya. Dan jika saja ini adalah pesan terakhir saya, lalu setelah ini seandainya saya mati dan sebelum sempat membimbingmu lagi, maka ingatlah; "Keinginan untuk bertaubat itu adalah hidayah dari Allah yang harus disambut dan disyukuri, maka lakukanlah sebelum benar-benar terlambat".

NS: Iyah insya Alloh aku akan pergi. Ustad, Aisyah tadi ngomong; "Kenapa gak membunuh aku saja sekaligus.. kenapa harus berangsur-angsur?" Bahkan dia minta sisa ramuan itu? Aku kaget dan bilang buat apa? Dia juga bilang; "Mba tau kalau penyakit kambuh sungguh gak tahan”, katanya sambil menangis dipelukanku. Ustad berarti dia belum memaafkanku yah?"

NS: Ustad tau ga, korban pertamaku adalah ibu mertuaku sendiri.

NAI: Allahmusta’an! Sampaikan pesan dari saya ke Aisyah secepatnya:
“Jika teteh minum sisa ramuan itu, sama artinya teteh bunuh diri dan hukumannya di neraka meminum racun itu dengan pelan-pelan untuk selamanya. Dan jangan minta mati karena itu sangat batil dan termasuk kufur, mintalah dengan do'a yang baik dan beradablah sama Allah!”.

Demi Allah, hati saya mulai pedih mendengarnya sehingga saya menyampaikan hadits itu demikian kasarnya. Sebenarnya hati saya ingin menulis untuk Aisyah seperti yang tertulis di status facebook 18 Juni 2012.

“Saudariku, jangan bersusah payah berdo'a untuk merubah takdir, tapi berdo'alah agar hatimu ridha dengan takdir-Nya, lalu bersahabatlah dengannya dalam setiap helaan nafasmu agar DIA ridha kepadamu. Sungguh kebahagiaan itu bukan usia yang panjang, tapi ketenangan jiwa dari hati yang ridha. Apapun itu. Dimanapun kakimu berpijak dan jadi apapun dirimu”. [RehabHati]

NAI: “Teteh, insya Allah dia memaafkanmu. Hanya saja dia sangat kesakitan atas perbuatanmu”. Intonasi saya mulai meninggi.
“Dan ingat, jika dia mati bunuh diri artinya dia masuk neraka selamanya. Dan itu tanggungjawabmu juga (karena dosa orang yang kamu bunuh ditanggung oleh kamu) makanya cepat ke Baitullah sebelum kamu meninggal tanpa pernah taubat. Paham ga?”

NS: “Yah cuma penyesalan yang tersisa andai bisa di ganti dengan nyawaku, aku ikhlas ustad”.

NAI: “Kamu tau anti-racun itu atau engga? Cepat cari di madura dan kirim ke Saudi, keluarga di bandung bisa bantu pengiriman insya Allah”.

NS: “Ada sih, semacam serbuk juga dan bisa di dapat di madura, di nenek dukun”.

NAI: “Upayakan hingga serbuk itu didapatkan. Secepatnya, usahakan, semoga itu menjadi penyebab turunnya ampunan Allah untukmu”.

NS: “Iyah ustad aku usahakan walau belum tau bisa didapat apa engga. Aku akan nyuruh anaku tuk mengusahakannya. Amien semoga Tuhan mengampuniku”.

NAI: “Secepatnya. Sebisa mungkin”.

NS: “Ustad kata anaku kata nenek itu, serbuk nya memang ada. Tapi harus di bayar mahal. Nenek itu minta bayaran mahal. Dan lagi katanya lagi, bulan depan bisa di kirim?”.

NS: Ustad boleh tanya? Ilmu apa dulu yang harus saya pelajari untuk belajar Islam. Kemarin menanyakan ke Aisyah, katanya semua ilmu wajib di pelajari, tapi yang paling pokok itu ilmu Tauhid, dan katanya lagi; "Ingat semua ilmu itu saling berhubungan". Saya yang tua ini makin gak paham ustad? Lagian dia ngajarnya bentar-bentar karena kondisinya yang terus melemah.

June 22, 2012
NAI: “Ilmu tauhid itu sederhananya ilmu tentang keyakinan kita terhadap adanya Allah dan kekuasaanya, sehingga tujuan hidup kita hanya mengarah dan bersandar kepada-Nya. Lawannya adalah Syirik, yaitu menduakan atau mencari perlindungan kepada selain Allah. Syirik adalah perbuatan yang membinasakan, dosa yang tidak terbakar dineraka. Dosa yang paling berat di hari hisab nanti, kata yang menentukan manusia diterima atau tidaknya di akhirat kelak”.

NS: “Ketikan ustad membuatku merinding. Apakah aku yang berlumur dosa itu akan diterima di akhirat ustad?”

NAI: “Insya Allah. Dan, taubat adalah hanyas satu-satunya pintu. Ingat, jika kita berusaha mendekat kepada Allah, maka Dia akan lebih dekat lagi. Anti racunnya sudah dikirim?”

NS: Itu dia masalahnya, anak dan menantuku sudah muter-muter nyari obat itu gak ketemu juga, alamat rumah nenek itu sudah gak ada, sepertinya ia sudah meninggal. Dan aku tidak berani ngomong pada Aisyah, karena aku masih ingat saat aku mengatakan ada obatnya dia begitu bahagia dan bersujud di lantai.

NAI: “Terus cari cara”.

NS: “Ustad, itu obat buatan hasil kumpul beberapa jenis. Jika yang membuatnya sudah mati gimana caranya? Tolong jangan memaksa saya seperti ini ustad”.

NAI: Saya tidak memaksa, itu adalah sebuah tantangan untukmu. Untuk orang yang ingin kembali. Di dunia ini Allah masih memberi kesempatan kepadamu untuk berusaha. Tapi di Akhirat kelak tidak ada celah untuk usaha lagi karena kita tidak bisa balik ke dunia ini lagi.

NS: “Terus kalau seandainya saya sudah bersusah payah nyari sana sini tetep gak ketemu. Gimana?” Saya tidak menjawab pesannya. Membiarkan dia berfikir, input yang saya suntik. Dan beberapa menit kemudian dia menjawab yakin.
NS: “Oke saya usahakan selama saya ada napas!”

NAI: “Nah, seperti itu. Saya beri waktu 2 hari untuk berfikir dan berusaha tentang anti-racun tersebut. Jika tidak ada, maka hubungi saya. Mudah mudahan Allah mengizinkan, kita buat keajaiban. Asal mba mau menuruti arahan saya”.

“Tauhid yang Kokoh & Disiplan Iman adalah modal Sejati bagi seorang Mukmin. Selanjutnya hanya ada dua pilihan, Melangkah dan Menciptakan Keajaiban atau terus Diam". [RehabHati]

June 23, 2012
NS: 2 hari? Secepat itu, gak mungkin ustad? Terus, memangnya ustad mau buat keajaiban apa? Iya pasti saya turuti.

NAI: Bukan saya yang buat keajaiban, tapi Allah. Insya Allah siapapun bisa, rahasianya hanya Ketauhidan, Keimanan dan Keyakinan. Tauhid, bahwasannya semua ini dilakukan untuk Allah dan menuju kepada-Nya. Iman, mempercayai sepenuhnya bahwa semua ini tidak lepas dari pengawasan dan kehendak-Nya dan Yakin bahwa Allah yang akan mengabulkan atau membatalkannya sesuai perhitungan-Nya.

NS: Umur ku hampir 45 tahun ustad. Dan jujur selama ini saya gak belajar apa itu agama sesungguhnya.

NAI: Jika mba telah yakin bahwa Allah maha mampu untuk menjadikan keajaiban ini, dan mba mengokohkan ketahuidan itu maka di Makah Al Mukaramah ada obat itu. Dan mba bisa mengambilnya dalam waktu kurang dari 1 hari. Tapi ingat! Jangan percaya sama saya tapi percaya Allah mampu melakukannya, maka atas izin-Nya mba bisa menyembuhkan dan menciptakan keajaiban dengan kehendak Allah, asal mba benar-benar dalam kondisi taubat yang sebenar-benarnya.

Dan jika keajaiban ini terjadi atas izin Allah, maka saya akan menulisnya menjadi kisah besar di buku ke 2 saya nanti. Dan itu sebagai tanda, bahwa Allah menerima taubat mba insya Allah. Syaratnya mba benar benar ingin berubah karena takut sama Allah dan ingin berjalan menuju keridhaan dan syurga-Nya.

NS: Ya Alloh sungguh aku menangis ustad. Aku akan berusaha, insya Alloh akan pergi. Trus, ustad mau nulis cerita ini? Sebaiknya jangan ustad gimana kalau seandai nya Aisyah tidak mau? Oh iya, ada rahasia yang saya dengar sekilas dari obrolan Abuya. Tapi semua ini sangat dirahasiakan dari Aisyah. Penyakitnya merembet setelah hasil kemarin. Ujung kematiannya pun mungkin tinggal menunggu hari. Abuya pun kebingungan tuk memulangkannya karena takut di salahkan sama pihak PT. Dan dengan itu saya semakin berdosa.

NAI: Besok antum pergi Umrah. Bawa satu botol mineral kosong yang bersih.

NS: Maksud ustad air zam-zam? Kenapa harus ke haram? Kami di rumah setiap hari minum air itu. Cuma jujur, saya tidak suka air itu.

Ustad... Lihat aisyah lagi uring-uringan nahan sakit. Biasanya jika sakit gitu, ia akan disuntik obat penenang sama dokter, dan tidur pulas. Dan 3 jam kemudian ia akan kambuh lagi, karena obat penenang itu itu hanya tahan 3 jam setelah itu Aisyah akan kesakitan lagi.

June 23: NAI: Jika antum percaya keajaiban yang ana lihat dihadapan, coba buktikan sendiri. Pergilah Umrah, dan penuhi rukunnya hingga selesai. Jangan lupa bawa botol air mineral kosong dan isi dengan air zamzam langsung dari kerannya. Kemudian do’akan air itu. Baca Al Fatihah dengan benar, bacakan do'a: "Ya Allah.. demi berkah Al Qur'an yang bisa menjadi penawar rasa sakit. Jadikanlah air ini sebagai penawar racun dalam tubuh Aishah Nursyifa binti fulan. Ya Allah sesungguhnya engkau yang maha penyembuh, maka berikanlah ya Allah, berikanlah kesembuhan yang tidak meninggalkan bekas" Lalu tiupkanlah ke air.
Kemudian pulang lagi kerumah dengan bawa air itu dan katakan ke Aisyah; “Insya Allah air ini, adalah anti racun untukmu. Anti racun yang ampuh dari Allah”. Bimbing dia untuk bBaca bismillah, dan minumkan!

Dan lihatlah keajaibannya beberapa menit kemudian. Jika ALLAH memberi kesembuhan melalui zamzam itu, insya Allah saat itu Allah sedang mengampunimu atas usahamu. Dan bertaubatlah dengan sesungguhnya.

Jika dalam perjalanan taubat ini, engkau mati maka insya Allah, ampunan menyertai kepergian ruhmu dari dunia ini. Dan jika ia sembuh melalui perantaramu, sungguh itu adalah keajaiban besar yang akan mengubah hidupmu kedepan.
Ana yakin keinginanmu untuk menyembuhkannya dan juga ketahuidan Aisyah akan membuatnya sembuh total dengan izin Allah.

NS : Ia insya Alloh secepatnya aku akan minta izin dianter pergi umroh. Walau agak deg-degan, karena ini hal pertama yang kulakukan. Owh ia, Aisyah lagi uring-uringan lagi. Tapi saya tak bisa menemaninya karena jaga anak-anak. Kalau bisa tolong bacakan do'a untuknya ustad. Telepon dia sekarang mba yaqin do'a ustad akan menenangkannya.

NAI : Lakukan yang kusarankan tadi dengan sungguh-sungguh. Hari ini saya lagi kotor, badan juga lagi tidak stabil. Mudah mudahan, allah akan mengabul do'amu juga karena kedekatanmu dengan-Nya saat ini. Do'a orang yang sedang berada dalam taubah, insya Allah mustajab. Bisa baca Al fatihah kan? Jika tidak bisa, baca basmallah saja, artinya "dengan menyebut nama Allah"

NS: Maksud tujuan ustad saya baca patihah atau bismilah untuk apa?

NAI: “Jika antum yang baca do'a itu, maka insya Allah dikabulkan. Karena mba sedang dalam keadaan taubat saat ini, dan orang bertaubat itu disayang Allah..

NS: Yah jika taubatnya sudah bener mantap. Saya baru saja ada keinginan. Rasanya kalau fatihah saja gak perlu saya baca, karena saya lihat dalam setiap bernapas dia mengucapkan syahadat atau istighfar. Kalau lagi tenang dia buru-buru dzikir atau ngaji Al Qur'an. Jadi saya yakin dia akan sembuh dengan sendirinya. Mudah mudahan. Cuma kasian aja 3 hari ini gk masuk makan, obat juga sudah jarang di minum.
3 Hari Sebelumnya, di layar berbeda dan rumah yang sama.

June 19, 2012: Aishya Nursyifa
AN: Ternyata ramalan kang NAI benar... Tak kusangka tak kuduga orangnya adalah yang ku anggap mba ku sendiri. Yah aku tak menyalahkanya, karena aku sadar dia melakukan ini karena kesalahnku juga, tapi aku penasaran kang NAI tau dari mana soal yang bersangkutan? Sungguh tak ku sangka, Subhanalloh.. ini kejutan ke dua untukku.

NAI: SubhanAllah! Teh syifa ini memang luar biasa. Atas izin Allah dia tiba tiba datang dan meminta cahaya untuk taubat, awalnya dia menanyakan apakah ana benar penulis buku RH? Dan ana jawab ya seperti biasa.

Lalu dia menceritakan tentang seorang teman yang mendzalimi temannya, dan si temannya hampir meninggal lalu dia ingin bertaubat dan bertanya bagaimana caranya? Ya ana jawab seperti biasa juga. Dan Alhamdulillah Allah menguatkannya untuk meminta maaf ke teteh, meski teramat sulit untuknya.

Salam Bahagia untukmu, oh iya teteh, boleh ga ceritanya ana buatkan satu cerita luar biasa dengan merubah nama Asli dengan tokoh lain untuk menjaga nama teteh? Atau ana buatkan nama asli? Cerita ini sungguh menyentuh teteh..

AN: Kang NAI bila mu bikin cerita tulis nama asing aja.

NAI: Teteh, si mba itu bilang aneh koq teteh masih hidup, padahal korban pertama dia dagingnya busuk dalam beberapa bulan dan dia menggunakan racun yang sama. Benar kan keajaiban yang ana bilang?

AN: Masa ia sih iyah keajaiban yang istimewa?

June 20, 2012
NAI: Keajaiban itu ada pada diri teteh yang kuat dan daging teteh belum busuk seperti korban pertama

AN: Semoga keajaiban lainya datang menyapaku. Belum, tapi mungkin akan busuk. Kalau lagi sadar yah aku trima dan berusaha sabar semampunya. Tapi di kala kambuh, sakitnya bukan main. Alangkah baiknya aku tidak tau semua ini.

NAI: Tetap tegar, saudariku. Insya Allah ada antinya di madura, ana sudah paksa si mba itu untuk cari serbuk anti racun itu. Tetap tegar, tetaplah berprasangka baik sama ALLAH. Semoga semuanya menjadi pelebur dosa, kekuatan prasangka baikmu insya Allah akan membuatkan kekebalan di tubuhmu. Insya Allah. Allahuakbar!!
Saya mulai berpura-pura tegar, padahal hatiku bergeletar.. mendengar kenyataan ini.

AN: Aamiin ya robbal alamiin. Kang NAI terimakasih atas suport dan motivasi serta ilmu ketauhidan yang selama ini kudapatkan dari mu. Aku takut tidur tak bangun lagi, jadi, mau minta maap khusus tuk kang NAI dan semua sahabat lain di kampung NAI. Walau aku tak pernah bertemu tapi lihat poto akhi, vidio dan suaranya itu sudah sangat luar biasa. Mohon sampaikan rasa trimakasih saya dan maap saya pada para sesepuh dan guru-guru yang mengajarkan ilmu di kampung Nai. Mohon maap lahir bathin, seandainya tak bisa menyapa di dunia nyata, kita bertemu di akherat nanti. Insya Alloh Aamiin

NAI: Subhanallah! Boleh ana telphone untuk menuntun 2 kalimah Syahadat untukmu?

Jangan.. kang NAI, pulsanya nanti mahal. Jika nanti aku berkesempatan dan berumur panjang, aku telpon untuk mendengarkan tausiyyah penyejuk jiwa langsung dari kang NAI.

Allahurabbuna Kareem.. Jiwaku seperti menggeletar, seakan sakaratul maut menindih dadaku. Bilakah hamba Allah yang teraniyaya ini pupus usianya dimalam ini? Kegelisahan menyelimutiku malamku, seakan nyawaku yang mau dicabut. Terdengar diluar ayam berkokok menandai malam telah larut.

Namun pagi-pagi seusai shubuh, diantara deretan pesan yang masuk kulihat ada nama Syifa. Bergegas kubuka dengan debaran kuat dan serta senyum mengembang, Allah masih memanjangkan usianya!
AN: Kang NAI bilang di depanku ada keajaiban kan? Betul sekali kang, satu-persatu keajaiban itu muncul..
1. Mba Nesha mengatakan semua perbuatanya selama 2 tahun ini.
2. Aku kaget pas dia minta di bangunkan waktu solat subuh, padahal selama ini ia yang paling marah ketika di bangunkan.
3. Ia minta di ajarkan membaca al -qur'an, padahal selama ini nyentuh juga anti.
4. Tiba-tiba dia datang ke abuya minta di antar umroh yg selama ini paling takut ma namanya Ka'bah. Sampai semua penghuni rumah kaget.
5. Dia bilang bahwa penawar racun itu akan segera di kirim, "Pasti kamu sembuh" katanya. MasyaAlloh aku bahagia tersenyum simpu, semua nasehat pepatah kang NAI dapat meluluhkan hatinya yang selama ini keras, dapat membikin dia berubah. Syukron Jazakalloh kang NAI atas semuanya, semoga Alloh membalas kebaikan mu yang berlipat ganda. Aamiin

NAI: Itu bukan keajaiban yang ana maksud teteh, karena ke 5 hal itu sudah ana ketahui sebelumnya. Dan catatat, yang meluluhkan hatinya bukan ana. Ingat gak ketika teteh berkata; "Aku tidak takut mati, tapi takut Allah tidak ridho dan tidak khusnul khatimah. Aku percaya do’a bisa mengubah takdir" Kata itulah yang meluluhkannya, sisanya baru ana arahkan dan itu semua kehendak Allah, itu adalah hidayah Allah yang sedang turun dihatinya. Bantu dia bertaubat teteh.

AN: Subhanalloh kata itu ku ucapkan sepintas saja.. Ketika itu dia menyuruhku untuk pulang ke indonesia, dan keliatannya mba Nesha cuek aja koq. Ia insya Allah kang NAI, aku akan membantunya semampuku. Kadang kalau melihat wajah dan perbuatannya, tiba-tiba saja rasa gak suka itu menghakimi, tapi ku usahakan tetep tersenyum padanya.
Saat kita tidak mampu lagi melihat kebaikan dalam diri seseorang, maka ingatkanlah hati kita tentang ayahnya, ibunya atau anak anak-nya yang merindukan kepulangannya dirumah.

Atau ingatlah tentang peranan yang Allah percayakan kepadanya untuk ikut serta dalam terjadinya rangkaian takdir-Nya hari ini.

Karena semua mahluk-Nya memiliki peranan dalam mendzahirkan keagungan Asma dan Sifat-Nya, hingga kesemua rangkaian takdir yang rumit itu terjadi

Takdir akan tetap terjadi terlepas engkau ridha atau tidak namun ketahuilah, saat engkau ridha maka Allah pun ridha kepadamu. Dan celah langit terbuka, disanalah kemudahan, disanalah keindahan, disanalah keajaiban. Dan keaiban itu begitu dekatnya, sangat dekat! sedekat jarak antara engkau dengan-Nya.

Sungguh! ketenangan itu biasanya turun menaburi lembah dihatimu, saat kehendakmu sejalan dengan kehendak-Nya.
Jangan takut mati, apalagi minta mati.. namun rinduilah petemuan dengan-Nya. Jangan mengeluh tentang rentan masa yang panjang. Sungguh, kita telah melewati masa yang tak mudah. Teruslah melangkah jangan terhenti, bersiaplah, berdandanlah dengan baju yang indah untuk satu pertemuan terindah..

Agar kita tidak malu saat pertemuan itu tiba. Dan, salam bahagia untukmu.

June 23, 2012
NAI: Aisyah, percaya kan sama saya? Percaya sama Allah mampu menyembuhkan? Segera setelah teteh baca pesan ini, ambil wudhu dan ambil air zam-zam yang murni satu gelas.

AN: Alhamdulilah kang nai, air zamzam itu selalu tersedia di samping saya. Rasa pilu malam ini sungguh lembut, pasrah pada yang lebih dekat dari siapa pun.

NAI: Teteh, Allah berfirman dalam surat Al Mukminun ayat 60. "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku kabulkan", itu janji Allah yang maha benar. Tinggal sekarang, sebagaimana kuat keyakinan, keimanan dan ketauhidan teteh. Jika teteh yakin sembuh, maka teteh sembuh dengan izin Allah. Teteh, jangan terlalu berharap terhadap anti racun yang di madura, karena jika teteh percaya 100 % sama obat atau anti racun itu sudah termasuk syirik kecil karena teteh telah melupakan Allah secara tidak langsung.
Sekarang mari kita masuk ke pengobatan cara Rasulullah SholAllahu Alaihi wa Sallam dengan metode Ruqyah dengan Ayat-Ayat Syifa (Ayat Ayat Penawar/Penyembuh) milik Allah!

Ada dua cara, pertama pakai Air Putih (lebih sempurna pakai Zamzam). Yang ke dua pakai MADU, ini sperti Rasulullah SholAllahu Alaiyhi wa Sallam contohkan. Hari pertama lakukan dengan memakai Air Zamzam.
Caranya:
1. Ambil wudhu, dan sempurnakan wudhunya. Jika belum shalat wajib, usahakan shalat dulu. Terus sholat mutlak dan minta pertolongan Allah disujud terakhir.
2. Baca istighfar, shalawat dan hamdalah. Baca juga "La haula walaquwwata Illabillahil Alihil Adziim!”, “Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wa nikmann nasiir”.
3. Dekatkan air zamzam ke bibir dan bacakan Al Fatihah, lalu tiupkan. Ulangi sebanyak 7 kali
5. Baca 6 ayat ini: Surat At Taubah Ayat 14, Surat Yunus Ayat 57, Surat An Nahl Ayat 69, Surat Al Isra 82, Surat As Syura 80 dan Surat Fushilat Ayat 44. Doakan agar air itu menjadi obat, doakan setiap partikelnya agar berubah menjadi balatentara yang memusnahkan semua bentuk penyakit dan menyirnakan sihirnya.
6. Baca basmAllah dan minumlah.

ALLAHUAKBAR! Semoga Allah menyembuhkanmu saudariku. Jika mungkin, lakukan ini di masjidil haram. Ingat shalat di Masjidil Haram itu 100.000 kali lebih tinggi derajatnya dibanding masjid lain, semoga itu hal ini terjadi dengan do'amu. Yakinlah... anggap saja surat ini adalah saksi, pertemuanmu dengan tengah-tengah keluarga di Indonesia nanti. Tidak ada yang tidak mungkin bagi ALLAH jika ia kehendaki, karena alam semesta ini pun tidak mungkin tanpa dzahir-Nya. Seperti janji-Nya, Dia akan mengabulkan saat engkau minta.

Besoknya ganti air itu dengan madu. Jika tidak ada perubahan, lakukanlah hingga diujung waktumu.

AN: MasyaAlloh trimakasih untuk petunjuknya. InsyaAlloh akan segera di lakukan. Saya tidak terlalu mengharap pada penawar racun itu. Karena ada yang lebih ku percaya tuk menyembuhkan. Tuk ke haram, kayaknya belum kuat, karena di sana lagi desek-desekan, di rumah aja kali yah. Selama ku mampu tuk ikhtiar berusaha, kenapa tidak, harapan sembuh besar, tapi aku juga jangan egois, kalau memang saat jemputan-Nya tiba-tiba datang, bersiap-siap tuk menyambutnya, walau bekal amal pun tak punya.
NAI: “Jawaban yang istimewa!”. Jawab saya, dan baru 3 jam dari saat it, hape mungil saya bordering dan terlihat sebuah nomor asing. Ternyata itu nomor Aisyah, dan saya menjawab salamnya.

June 23, 2012, +966504768xxx
AN: “Kang NAI. Aku koq tidak bisa membaca ayat-ayat itu?” Katanya melalui telephone.

NAI: “Maksudnya tidak bisa baca Qur’an?”

AN: “Bukan, mataku kabur saat mau baca Ayat itu. Tanganku juga tiba-tiba berat saat membuka mushaf?”

NAI :“Tadi adikmu di banddung sama, katanya dia perlu diruqyah, habis itu ana telpon. Ternyata teteh yang perlu di ruqyah itu? Apa tidak salah dengar ya teh?”

AN : “Iyah, apa benar kang nai bisa meruqiyah via telpon?”

NAI: “Hehe.. enggak, 2 bulan lalu. Waktu sepulang dari Riyadh, ana kan buka Konsultasi Rehab Hati. Dan salah satu yang telpon itu ahwat dari Jombang Jawa Timur. Dia mengisahkan tentang keluhannya, dan saat itu tak sadar dari bibir ana terucap ‘SubhanAllah!’. Tiba-tiba dia batuk berat. Dan Ana tanya; “Kenapa batuk?” Dia jawab ga tau khi; “Koq tangan aku gemetar ya?” Ana bilang coba konsentrasi, dan saat itu saya getarkan kata: ”SubhanAllah! Walhamdulillah wa laailaaha IllAllahu Allahu Akbar!”. Dan hapenya terpental dari tangannya”. Awalnya begitu.

AN : “Kang... nai. Koq tubuh aku menggigil dan tanganku mencubit-cubit tangan sendiri”.

NAI : “SUBHANALLAH...! Coba baca Syahadat”. Jawabku sambil melakuan penekanan suara saat mengucap Tasbih. Suara syifa mulai terdengar menahan sesuatu dan ketakutan.

AN : “Belakangan ini suka ada bayangan yang mengikutiku ke kamar mandi kang.. Hhhiiih..”.

NAI : “Kenapa, ada apa? Jangan takut! Coba baca syahadat. Asyhadualla ilaahaillallah! Wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah..”

AN : “Bacaan syahadat kang NAI menakutkan!”

NAI : “Dzikir jangan takut! Tenangkan hati. Ada air zamzam gak?”

AN : “Iyah ada.”

NAI : “Iya, ambil satu gelas dan dekatkan kebibir. Pegang dengan tangan kanan, dan hapenya pegang pakai tangan kiri”

AN : “Udah..udah. Udah dulu ya?!

NAI : “Udah apaan? Baca, ikuti saya! Asyhadu Allailaaha IllAllah! Wa Asyhadu Anna Muhammadarasulullah!..”

AN : “Asyhadu...asyha.. Ga bisa, berat. Pergi..pergiii...!”.
Terdengar disana syifa histeris dan tidak mendengarkan sama sekali, seperti ketakutan dan mengusir sesuatu dari hadapannya. Bulu-bulu disekujur tubuh saya mulai merespon aura tidak mengenakan. Saya berdiri dan mengunci pintu, supaya tidak terdengar dikamar sebelah.

NAI : “Hmm.. siapa kalian!?”

AN : “Pergi...pergi...........! Pergi. Pergi! Perrrgi..!”

NAI : “Ukhti..?”

NAI : “Ukhti syifa! Syifa, dengarkan dan ikuti saya! Kuatkan.. Kuatkan hingga baca Al Fatihah selesai. Hanya 3 kali. Ikuti..pegang gelasnya!”.

AN : “Iyah, iyah. Sudah dipegang. Ada yang berdiri didepanku. Besar, kang nai.. Aku takut!”

NAI :Syifa: “Jangan takut! Mereka hanyalah Jin-Jin yang juga takut sama Allah! Ikuti dekatkan gelasnya ke bibir”.
Saya memulai membimbing syifa untuk membaca Al Fatihah dimulai dengan basmAllah hingga Ayat 7. Syifa mengikuti dengan terbata bata dan sesekali menjerit seperti tercekik. Alhamdulillah, meski butuh perjuangan keras ayat Al Fatihah itu berhasil hingga ayat 7.

NAI : “..Sekarang tiupkan ke gelas. La Haula wa la Quwwata Illa Billah! Fiufth...!”

AN : “Laaaaa Haula wa laaa Quwwata Illaaa Billah! Huh...!”

NAI : “Sekarang baca basmAllah dan minumlah!”

AN : “Bismillah..Bismillahirahmaanirra.......hiim. Haaaaa.. Haaaa panaaas!”

NAI: “Minum! Habiskan!”. Dari ujung telpon sana tidak ada jawaban, hanya suara menggigil dan ketakutan yang sangat. Bulu disekujur tubuhku mulai bereaksi, saat itu saya memutuskan untuk mulai berbicara dengan gagah.

NAI : “Yaa.. Mahysarol Jin.. Hey maysarakat Jin!!?”
Disana tidak ada komunikasi, ia terus menjerit-jerit. Sementara saya mulai khawatir sambungan HP akan terputus. Saya membenarkan posisi duduk menghadap kiblat dan beristighfar.

Menarik nafas dan memulai Ta’awudz. Ketika ta’awudz diperdengarkan, suara jeritan itu berubah menggeram! Dan saya mengulang dua kalimah syahadat, dan suara geraman itu berubah berselang seperti kesakitan. Lalu dilanjutkan dengan BasmAllah memulai Al Faatihah. Jeritan kesakitan mengeras saat terlafal Ayat “Maaliki Yaumiddin...!”

Sepertinya ayat ini adalah ayat paling ditakuti ketika diperdengarkan kepada Jin pembangkang seperti yang meraksuki tubuh syifa. Setelah selesai Al Fatihah, lalu saya menegaskan dengan penekanan.

NAI : “Ukhruj ya AduwAllah! Keluarlah kalian wahai musuh-musuh Allah! Keluar!”
Bentakan itu saya ulang, dan suara syifa benar-benar berubah geram dan berteriak-teriak kesakitan. Namun tetap tidak ada komunikasi. Lalu saya melanjutkan dengan Al Ikhlas, Alfalaq dan Annas. Suara jeritan kesakitan itu mereda sebelum An Nas selesai. Dan kulihat HP dalam kondisi tersambung, tapi tidak ada suara. Baru pada besok harinya, syifa kembali mengirim pesan.

June 24, 2012: Nesha Sulistiya
NS: Ustad apa yang terjadi dengan dia? Saya masuk kamar di temukan pingsan belepotan darah, dari mata hidung semuanya mengeluarkan darah, HP di gengaman tangannya, sekarang dia di infus sama anak majikannya?
Ustad aku belum dapat ijin tuk umroh, katanya sibuk, penawar itu pun tetap gak ada, apa saya harus jujur pada Abuya tentang apa yang ku perbuat? Aku rela di penjara akibat perbuatanku ustad.

NAI: Semalam saya ruqyah, sepertinya dia di serang oleh jin juga ya? Apa itu bagian dari kejahatan racun itu?

NS: Iya ustad, kejahatan fungsi racun itu diantaranya membuat korbannya gila bukan cuma sakit. Saya juga selama ini aneh kok dia wajar-wajar aja gitu?

NAI: Bener-bener terkutuk! Nama racunnya apa?

NS: Saya terima ustad ngomong begitu, bahkan saya lebih parah dari itu. Namun keinginan saya bertaubat besar. Walau kejahatanku begitu besar. Saya akan pulang dua minggu lagi dan tiket sudah oke. Akan ku cari sekeras apa pun pencarian penawar itu. Akan ku usahakan. Setidaknya korban ke dua ku bisa tertolong nyawanya.

NAI: Maksudnya kejahatan racun itu benar-benar luarbiasa. Kamu tau ga kejahatan ini akibatnya seperti apa? Kamu bisa-bisa tidak diterima diakhirat jika tidak bertaubat. Dosa paling besar adalah syirik atau menduakan Allah. Usahakan sebisa mungkin, sekeras mungkin, semampumu semoga Allah mengampuni sebelum ajal menjemputmu. Saya usahakan untuk menutupi rahasia ini dan menutupnya dari keluarganya jika memang kamu bener-bener bertaubat, mudah-mudahan Allah menolongmu.

NS : Amiin. Iya akan ku usahakan ustad. Saya tidak tau menau so'al syirik. Trimakasih juga kalau mau merahasiakannya dari keluarga dia. Saya pulang secepatnya. Tapi so'al petunjuk ke haram itu apa patut saya kerjakan dulu? Bila tidak memungkinkan gimana?

NAI: Sebaiknya umrah dulu, meski sangat berat. Ingat, sekali Sholat di masjidil haram itu sebanding dengan 100.000 kali di mesjid biasa, jangan lewatkan untuk taubat disana.

NS : Ustaaaad mba bahagia sekali nanti Ashar di suruh Abuya mendorong kursi roda krn dia mau ke haram. Ini kesempatan bagus dan petunjuk ustad akan saya lakukan.

NAI: "Hai hamba-hamba yang telah melampaui batas dlm berbuat dosa, janganlah kalian putus asa mohon Rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa-dosamu, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Qs 39:53).
"Hai manusia, jika dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit, kemudian engkau sangat menyesal atas dosa-dosamu, kemudian engkau memohon ampunan kepadaKu dengan sungguh, niscaya akan Ku ampuni seluruh dosa-dosamu selama engkau tdk mempersekutukanKu". (Hadist Qudsi, Turmudzi).

June 25, 2012
NS : Ini lagi di mobil menuju haram. Tapi tak tau apa yang terjadi nanti di sana, karna Aisyah dari pertama berangkat menggigil terus serta mengucapkan takbir yang amat susah. Saya jadi makin deg-degan.

NAI: Terus bacakan "Subhanallah... Walhamdulillah.. Walaa ilaha illallahu Allahu akbar" dekat dia, dia sedang diganggu IBLIS. Aisyah ada disana? Ana telpn untuk bantu?

NS : Bacaan itu di bacakan terus ma Ummi dan Abuya. Dia duduk di gandeng umi. Sedang aku di belakang.nlp siapa hp nya gak di bawa.

NAI: Sampaikan sama Umi dan Abuya, tolong bantu dia hingga ia mendapatkan air zamzam dan tolong bacakan al Fatehah pada air tersebut terus minumkan ke Aisyah. insya Allah sembuh, soalnya semalam saya bacakan hal yang sama dan Aisyah tenang seharian. Dan tolong sampaikan pesan ini ke abuya dan umi, sampaikan dari nai. Sekarang..!

NS : Oke ustad saya sampaikan sekarang. Air zamzam yang di kamarnya pun dibawa sama dia, dan setiap di minumkan dia menjerit kesakitan. Sekarang ummi bacakan surat yang untuk orang meninggal yang terkenal itu, yasin kali ya? Dia malah tambah kejang-kejang. Abuya mengajak menantu dan anak lelakinya ada ketakutan di wajah mereka.

NAI: Yang kesakitan itu jinnya.. minumkan saja, tapi jangan sekarang. Usahakan sekarang sampai di Masjidil Haram, bacakan fatihah 7 kali dan tiupkan ke air setiap selesai baca.. Lalu baca basmalah dan minta kesembuhan sebagai obat penawar racun dan minumkan...

NS: Ini sedang dibacakan Al Fatihah tad. Ustad apa yang harus pertama kali saya lakukan setelah di haram?. Ini semakin dekat. Dan abuya menyuruh anaknya tuk mendorongnya gak jadi aku.

NAI: Masuk mesjid.. Sholat dua rakaat untuk menghormati masjid atau lakukanlah thowaf. Lalu ambil zamzam dan duduk menghadap baitullah, lalu bacakan itu.

NAI: bacakan fatihah 7 kali dan minta pertolongan Allah untuk menyembuhkan....tiupkan ke air dan simpan baik baik lanjutkan tawaf dan baca istighfar minta ampunan sebanyak-banyaknya.

NS: Niat solat menghormati gimana bacaannya? Thowaf itu apa? Gimana caranya? Apa bacaannya? Baca istigfarnya cukup kan “Astagfirullohaladzim” aja?

NS: Alhamdulillah udah nyampe di haram. Dia semakin mengigil, Abuya pun tak kuat menenangkanya.

NAI: Thowaf itu mengelilingi Baitullah.. 7 kali. Bacaannya bisa “Robbana aatina fiddunnya hasanah, wafilakhirati hasanah wakinna adza bannar”. Artinya; Ya Allah berikan aku kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkanlah aku dari api neraka.

NAI: Intighfar cukup yang tadi. Jika ada yang tidak tahu tanyakan

NS : Saya masih di mobil, dia di turunkan ke korsi roda dan saya liat dia langsung sujud sambil mengucapkan takbir. Banyak orang meliriknya, ummi bertanya mau Thowaf aja apa Umroh?

NAI: Cukup thowaf saja, kalo umrah prosesnya lumayan panjang dan tidak memungkinkan. Karena antum harus ke Tan’im dulu mengambil miqat (niat umrah) setelah itu balik lagi ke Masjidil Haram, Thawaf, Shalat di Maqom Ibrahim, Shalat di hijr Ismail, Sa'i dan Tahalul. Jika thawaf aja hanya mengelilingi kabah 7 kali selesai.

NS: Oke siap ustad saya pamit dulu. Dia dorong anak dan menantunya. Saya harap bener-bener ada pertolongaan Alloh.

NAI: Allah menyayangi orang yang bertaubat. Bismillahirrahmaanirrahiim...
NS: “Ustad baru kali ini saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri kejadian menegangkan dan begitu menakutkan. Jujur aku tak tau menau bahwa dalam racun itu ada jinnya. Pertama masuk masjidil Haram Aisyah semakin menggigil, aku yang sedari tadi gugup semakin gugup. Umi bertanya pada Aishah; “Mau turun ke bawah apa di atas aja, soalnya banyak jemaah?” Dan Aisyah menunjuk dengan telunjuk kanannya untuk TURUN”, ia meminta pada abuya di ambil kan air zamzam murni dari keran. Ia memaksakan diri solat dalam keadaan duduk, lalu saya tinggal thowaf sama umi.

Karena masjidil haram sangat penuh, desakan satu putaran itu sangat lama, dan aku juga bengong ternyata ada kenyamanan lahir bathin disana. Tiba-tiba umi ditelepon ma abuya, katanya Aisyah kejang-kejang. Kami langsung lari dan ternyata Aisyah sudah di bawa ke kamar dengan bantuan orang lain, dia ngamuk-ngamuk keras sampai tidak kuat dipegangin empat lelaki arab.
Tiba-tiba Abuya bawa lelaki tua berjenggot kaya ulama, lalu ulama itu membacakan berbagai bacaan dengan meluddahi air ke muka dia, ke dua tangan nya di ikat lalu para orang yang hadir di Al Haram itu membacakan ayat Al quran di pimpin ulama itu. Warna kulit Aisyah berubah kebiruan dan.. dia meringis kesakitan ampun-ampunan! Ulama itu terus membacakn doa, dzikir dan istighfar lebih dari satu jam, lalu air doa itu di siramkn ke tubuhnya.

Tiba-tiba Aisyah yang lagi ngamuk gagah dengan suara geram menakutkan itu menjadi lunglai, dia muntah banyak sekali. Dari telinga hidung mata keluar darah segar, dan lama-kelamaan darah itu berubah menjadi keitaman, sampai orang yang hadir pun terkejut.

Dalam pikiran mba mungkin dia akan meninggal,...



Story Continue..

Salam Tauhid
Nuruddin Al Indunissy

2 comments:

  1. Subhanallah, wal hamdulillah wallahuakbar...
    kisah ini menginspirasi saya dan insya allah menguatkan saya dalam menghadapi ujian yang saya hadapi
    terima kasih telah berbagi ^_^

    ReplyDelete
  2. Untuk Mas Nurudin.....semoga Allah akan tetap terus menjagamu untuk menyebarkan kebaikan...aamiin.
    Salut utk storynya yg sangat inspiratip ....wassalam

    ReplyDelete